Translator!

Senin, 12 Januari 2015

Mengenal Virus Ebola Lebih Dekat

Virus ebola sudah menjadi tren di berbagai media akibat wabah yang muncul akibat virus ini di Afrika belakangan ini. Berita tentang adanya seorang Indonesia yang diduga terinfeksi Ebola karena dia baru pulang dari Liberia cukup mengejutkan dan menyebabkan kita harus mengenal lebih dalam mengenai virus ini.

Memang kekuatiran akan penyakit ebola masih belum dapat dibandingan dengan wabah Mers dari Arab Saudi karena warga Indonesia yang berdatangan dari Afrika tidak sebanyak mereka yang baru saja menunaikan ibadah haji di Arab Saudi.

Namun demikian, pengetahuan dan kewaspadaan tentang virus Ebola ini tetap harus ditingkatkan. Banyak rumah sakit rumah sakit di Indonesia yang sudah menyiapkan fasilitas untuk kemungkinan merawat pasien dengan penyakit Ebola.

Apa Itu Virus Ebola?
Virus Ebola
Virus Ebola adalah sejenis virus yang berasal dari keluarga Filoviridae, genus Ebolavirus. Ada 5 jenis virus Ebola yang telah teridentifikasi, yaitu: Virus Ebola (Zaire ebolavirus), Virus Sudan (Sudan ebolavirus), virus Tai Forest (Tai Forest ebolavirus), virus Bundibugyo, dan virus Reston. Virus ini dijumpai pada beberapa negara Afrika, dan pertamakali ditemukan di Kongo pada tahun 1976, di dekat sungai Ebola, yang menjadi nama virus ini. Peneliti sejauh ini menduga kuat bahwa virus ini berasal dari hewan, utamanya kelelawar.


Penyakit Ebola
Penyakit yang disebabkan oleh virus Ebola disebut penyakit Ebola, yang dulunya disebut demam berdarah Ebola (Ebola hemorrhagic fever). Gejala penyakit Ebola adalah demam, sakit kepala berat, nyeri otot, lemah, lelah, diare, mual, sakit perut, dan perdarahan atau lebam pada kulit. Gejala dapat muncul sejak 2 sampai 21 hari sejak terpapar virus Ebola, dengan rata-rata 8-10 hari. Virus Ebola dapat menyebabkan perdarahan dengan tingkat kematian 50%.

Penyebab utama kematian adalah rusaknya lapisan endothelium pembuluh darah sehingga menyebabkan perdarahan. Kerusakan ini tidak secara langsung disebabkan oleh virus Ebola, tetapi disebabkan karena terlalu aktifnya sistem pertahanan tubuh dalam mengantisipasi keberadaan virus yang masuk ke dalam tubuh.

Aktivitas sistem pertahanan yang berlebihan tersebut justru mengakibatkan rusaknya beberapa organ tubuh yang penting.Kesembuhan penyakit Ebola tergantung pada terapi suportif yang diberikan serta daya tahan tubuh pasien. Pasien yang sembuh dari penyakit Ebola akan menjadi kebal terhadap virus Ebola sedikitnya untuk 10 tahun ke depan.

Wabah Ebola Di Tahun 2014
Tahun 2014 lalu tercatat dalam sejarah sebagai tahun wabah virus Ebola terbesar, terutama di Afrika barat, dan menjangkiti puluhan orang dari berbagai negara Afrika. Sampai tanggal 29 Oktober 2014, tercatat 67 kasus dilaporkan di Kongo dan 48 diantaranya meninggal.

Tiga kasus Ebola yang melibatkan 3 orang Amerika yang baru pulang dari negara Afrika menyebabkan virus Ebola menjadi perhatian seluruh negara di dunia, karena adanya kemungkinan penyebaran ke negara lain. Saat ini semua negara menyiapkan kewaspadaannya untuk mencegah masuknya virus Ebola melalui penduduknya yang baru pulang dari negara-negara Afrika, terutama di negara yang sedang terjangkit virus Ebola.

Penyebaran Virus Ebola
Penanganan wabah ebola
Karena mahluk pembawa (host reservoir) virus Ebola alami belum teridentifikasi, maka cara bagaimana virus pertama kali muncul pada manusia pada awal wabah tidak diketahui. Namun, para ilmuwan percaya bahwa pertama kali pasien menjadi terinfeksi melalui kontak dengan hewan yang terinfeksi, seperti kelelawar buah atau primata (kera dan monyet).

Penularan dari orang-ke-orang selanjutnya akan terjadi dan dapat menyebabkan sejumlah besar orang terinfeksi. Ketika infeksi terjadi pada manusia, virus dapat menyebar dalam beberapa cara kepada orang lain.

Virus Ebola dapat menular melalui kontak langsung (melalui kulit rusak atau selaput lendir, misalnya, mata, hidung, atau mulut), dengan darah atau cairan tubuh (termasuk urin, air liur, keringat, tinja, muntah, ASI, dan air mani), atau melalui benda yang telah terkontaminasi dengan virus (seperti jarum suntik). Ebola tidak menyebar melalui udara atau air, atau pun makanan.

Namun, di Afrika, Ebola dapat menyebar sebagai akibat dari penanganan daging satwa liar (binatang liar diburu untuk makanan) dan kontak dengan kelelawar yang terinfeksi. Tidak ada bukti bahwa nyamuk atau serangga lainnya dapat menularkan virus Ebola. Hanya beberapa spesies mamalia (misalnya, manusia, kelelawar, monyet, dan kera) yang bisa terinfeksi dan menyebarkan virus Ebola.
Petugas kesehatan yang merawat pasien Ebola, maupun keluarga dan teman yang kontak dengan pasien berada pada risiko tertinggi untuk tertular, karena itu harus sangat berhati-hati, menggunakan perlindungan yang memadai, seperti masker, baju khusus, sarung tangan, serta pelindung mata.

Setelah seseorang pulih dari Ebola, mereka tidak bisa lagi menyebarkan virus. Namun, virus Ebola dapat ditemukan dalam air mani sampai 3 bulan. Karena itu, direkomendasikan untuk menghindari hubungan seks (termasuk oral seks) minimal 3 bulan untuk mencegah penyebaran virus Ebola.

Pengobatan
Sampai saat ini belum ada obat antivirus maupun vaksin yang tersedia untuk Ebola. Penyakit Ebola diatasi sesuai dengan gejala yang muncul. Misalnya untuk demam tinggi diberi obat turun panas, untuk diarenya diberi tambahan cairan untuk mengurangi dehidrasi, untuk nyeri-nyerinya diberi analgesik/obat anti nyeri, dll. Selain itu terapi suportif harus diberikan misalnya cairan infus yang sesuai untuk menyeimbangkan elektrolit, menjaga status oksigen dan tekanan darah, dan mengatasi infeksi lain jika terjadi.

Pencegahan
Karena belum ada pengobatannya, maka pencegahan menjadi sangat penting. Usahakan untuk menghindari dulu bepergian ke negara-negara yang sedang terkena wabah Ebola seperti Liberia, Guinea, Sierra Leone (penyebaran paling luas), dan Kongo. Jika Anda harus bepergian ke daerah yang sedang terkena wabah Ebola, pastikan untuk melakukan hal berikut:

1. Jaga kebersihan, misalnya, mencuci tangan dengan sabun dan menghindari kontak dengan darah dan cairan tubuh.

2. Jangan bersentuhan dengan barang-barang yang mungkin telah kontak dengan darah atau cairan tubuh orang yang terinfeksi (seperti baju, selimut, jarum, dan peralatan medis).

3. Hindari kontak dengan kelelawar dan primata non-manusia atau darah, cairan, dan daging mentah yang diolah dari hewan-hewan ini.

Setelah Anda kembali dari daerah-daerah rawan tersebut, pantau kesehatan Anda selama 21 hari dan mencari perawatan medis segera jika Anda mengalami gejala Ebola. Beritahu petugas kesehatan jika Anda memiliki kontak langsung dengan darah atau cairan tubuh dari orang yang sakit Ebola. Virus ini dapat masuk ke dalam tubuh melalui kulit rusak atau selaput lendir tidak terlindungi, misalnya, mata, hidung, atau mulut.

Demikian sekilas tentang Ebola. Meskipun nampaknya jauh di Afrika sana, tetapi dengan kemajuan teknologi transportasi dan dinamika masyarakat yang mengharuskan pergi dan pulang ke dan dari luar negeri, termasuk para tenaga kerja Indonesia (TKI), maka kewaspadaan dan pengetahuan tentang penyakit Ebola ini tidak boleh dipandang sebelah mata. (AI)

Sumber: Wikipedia


Penulis: Andreas Ivan Budianto/ 12140110301
Editor: Ardyan Endardo

Tidak ada komentar:

Kritik dan Saran