Virus ebola sudah menjadi tren di berbagai media akibat
wabah yang muncul akibat virus ini di Afrika belakangan ini. Berita tentang
adanya seorang Indonesia yang diduga terinfeksi Ebola karena dia baru pulang
dari Liberia cukup mengejutkan dan menyebabkan kita harus mengenal lebih dalam
mengenai virus ini.
Memang kekuatiran akan penyakit ebola masih belum dapat
dibandingan dengan wabah Mers dari Arab Saudi karena warga Indonesia yang
berdatangan dari Afrika tidak sebanyak mereka yang baru saja menunaikan ibadah
haji di Arab Saudi.
Namun demikian, pengetahuan dan kewaspadaan tentang virus
Ebola ini tetap harus ditingkatkan. Banyak rumah sakit rumah sakit di Indonesia
yang sudah menyiapkan fasilitas untuk kemungkinan merawat pasien dengan
penyakit Ebola.
Apa Itu Virus Ebola?
![]() |
| Virus Ebola |
Virus Ebola adalah sejenis virus yang berasal dari keluarga
Filoviridae, genus Ebolavirus. Ada 5 jenis virus Ebola yang telah
teridentifikasi, yaitu: Virus Ebola (Zaire ebolavirus), Virus Sudan (Sudan
ebolavirus), virus Tai Forest (Tai Forest ebolavirus), virus Bundibugyo, dan
virus Reston. Virus ini dijumpai pada beberapa negara Afrika, dan pertamakali
ditemukan di Kongo pada tahun 1976, di dekat sungai Ebola, yang menjadi nama
virus ini. Peneliti sejauh ini menduga kuat bahwa virus ini berasal dari hewan,
utamanya kelelawar.
Penyakit Ebola
Penyakit yang disebabkan oleh virus Ebola disebut penyakit
Ebola, yang dulunya disebut demam berdarah Ebola (Ebola hemorrhagic fever).
Gejala penyakit Ebola adalah demam, sakit kepala berat, nyeri otot, lemah,
lelah, diare, mual, sakit perut, dan perdarahan atau lebam pada kulit. Gejala
dapat muncul sejak 2 sampai 21 hari sejak terpapar virus Ebola, dengan
rata-rata 8-10 hari. Virus Ebola dapat menyebabkan perdarahan dengan tingkat kematian
50%.
Penyebab utama kematian adalah rusaknya lapisan endothelium
pembuluh darah sehingga menyebabkan perdarahan. Kerusakan ini tidak secara
langsung disebabkan oleh virus Ebola, tetapi disebabkan karena terlalu aktifnya
sistem pertahanan tubuh dalam mengantisipasi keberadaan virus yang masuk ke
dalam tubuh.
Aktivitas sistem pertahanan yang berlebihan tersebut justru
mengakibatkan rusaknya beberapa organ tubuh yang penting.Kesembuhan penyakit
Ebola tergantung pada terapi suportif yang diberikan serta daya tahan tubuh
pasien. Pasien yang sembuh dari penyakit Ebola akan menjadi kebal terhadap
virus Ebola sedikitnya untuk 10 tahun ke depan.
Wabah Ebola Di Tahun
2014
Tahun 2014 lalu tercatat dalam sejarah sebagai tahun wabah
virus Ebola terbesar, terutama di Afrika barat, dan menjangkiti puluhan orang
dari berbagai negara Afrika. Sampai tanggal 29 Oktober 2014, tercatat 67 kasus
dilaporkan di Kongo dan 48 diantaranya meninggal.
Tiga kasus Ebola yang melibatkan 3 orang Amerika yang baru
pulang dari negara Afrika menyebabkan virus Ebola menjadi perhatian seluruh
negara di dunia, karena adanya kemungkinan penyebaran ke negara lain. Saat ini
semua negara menyiapkan kewaspadaannya untuk mencegah masuknya virus Ebola
melalui penduduknya yang baru pulang dari negara-negara Afrika, terutama di
negara yang sedang terjangkit virus Ebola.
Penyebaran Virus
Ebola
![]() |
| Penanganan wabah ebola |
Karena mahluk pembawa (host reservoir) virus Ebola alami
belum teridentifikasi, maka cara bagaimana virus pertama kali muncul pada
manusia pada awal wabah tidak diketahui. Namun, para ilmuwan percaya bahwa
pertama kali pasien menjadi terinfeksi melalui kontak dengan hewan yang
terinfeksi, seperti kelelawar buah atau primata (kera dan monyet).
Penularan dari orang-ke-orang selanjutnya akan terjadi dan
dapat menyebabkan sejumlah besar orang terinfeksi. Ketika infeksi terjadi pada
manusia, virus dapat menyebar dalam beberapa cara kepada orang lain.
Virus Ebola dapat menular melalui kontak langsung (melalui
kulit rusak atau selaput lendir, misalnya, mata, hidung, atau mulut), dengan
darah atau cairan tubuh (termasuk urin, air liur, keringat, tinja, muntah, ASI,
dan air mani), atau melalui benda yang telah terkontaminasi dengan virus
(seperti jarum suntik). Ebola tidak menyebar melalui udara atau air, atau pun
makanan.
Namun, di Afrika, Ebola dapat menyebar sebagai akibat dari
penanganan daging satwa liar (binatang liar diburu untuk makanan) dan kontak
dengan kelelawar yang terinfeksi. Tidak ada bukti bahwa nyamuk atau serangga
lainnya dapat menularkan virus Ebola. Hanya beberapa spesies mamalia (misalnya,
manusia, kelelawar, monyet, dan kera) yang bisa terinfeksi dan menyebarkan
virus Ebola.
Petugas kesehatan yang merawat pasien Ebola, maupun keluarga
dan teman yang kontak dengan pasien berada pada risiko tertinggi untuk
tertular, karena itu harus sangat berhati-hati, menggunakan perlindungan yang
memadai, seperti masker, baju khusus, sarung tangan, serta pelindung mata.
Setelah seseorang pulih dari Ebola, mereka tidak bisa lagi
menyebarkan virus. Namun, virus Ebola dapat ditemukan dalam air mani sampai 3
bulan. Karena itu, direkomendasikan untuk menghindari hubungan seks (termasuk
oral seks) minimal 3 bulan untuk mencegah penyebaran virus Ebola.
Pengobatan
Sampai saat ini belum ada obat antivirus maupun vaksin yang
tersedia untuk Ebola. Penyakit Ebola diatasi sesuai dengan gejala yang muncul.
Misalnya untuk demam tinggi diberi obat turun panas, untuk diarenya diberi
tambahan cairan untuk mengurangi dehidrasi, untuk nyeri-nyerinya diberi
analgesik/obat anti nyeri, dll. Selain itu terapi suportif harus diberikan
misalnya cairan infus yang sesuai untuk menyeimbangkan elektrolit, menjaga
status oksigen dan tekanan darah, dan mengatasi infeksi lain jika terjadi.
Pencegahan
Karena belum ada pengobatannya, maka pencegahan menjadi
sangat penting. Usahakan untuk menghindari dulu bepergian ke negara-negara yang
sedang terkena wabah Ebola seperti Liberia, Guinea, Sierra Leone (penyebaran
paling luas), dan Kongo. Jika Anda harus bepergian ke daerah yang sedang
terkena wabah Ebola, pastikan untuk melakukan hal berikut:
1. Jaga kebersihan, misalnya, mencuci tangan dengan sabun dan
menghindari kontak dengan darah dan cairan tubuh.
2. Jangan bersentuhan dengan barang-barang yang mungkin
telah kontak dengan darah atau cairan tubuh orang yang terinfeksi (seperti
baju, selimut, jarum, dan peralatan medis).
3. Hindari kontak dengan kelelawar dan primata non-manusia
atau darah, cairan, dan daging mentah yang diolah dari hewan-hewan ini.
Setelah Anda kembali dari daerah-daerah rawan tersebut,
pantau kesehatan Anda selama 21 hari dan mencari perawatan medis segera jika
Anda mengalami gejala Ebola. Beritahu petugas kesehatan jika Anda memiliki
kontak langsung dengan darah atau cairan tubuh dari orang yang sakit Ebola.
Virus ini dapat masuk ke dalam tubuh melalui kulit rusak atau selaput lendir
tidak terlindungi, misalnya, mata, hidung, atau mulut.
Demikian sekilas tentang Ebola. Meskipun nampaknya jauh di
Afrika sana, tetapi dengan kemajuan teknologi transportasi dan dinamika
masyarakat yang mengharuskan pergi dan pulang ke dan dari luar negeri, termasuk
para tenaga kerja Indonesia (TKI), maka kewaspadaan dan pengetahuan tentang
penyakit Ebola ini tidak boleh dipandang sebelah mata. (AI)
Sumber: Wikipedia
Penulis: Andreas Ivan Budianto/ 12140110301
Editor: Ardyan Endardo
Editor: Ardyan Endardo



Tidak ada komentar:
Posting Komentar