Translator!

Senin, 15 Desember 2014

Kisah Perjalanan Mantan Presiden ke-6


Wisnu Nugroho
 Bedah buku karya Wisnu Nugroho

Di dunia ini tidak ada yang sempurna, termasuk pemimpin yang paling disegani sekalipun. Menilik dalam kehidupan berbangsa dan bernegara Indonesia, kita akan ingat pada seorang sosok bernama Susilo Bambang Yudhoyono yang akrab disapa pak Esbeye (SBY). Pak Esbeye adalah sosok pemimpin pertama Indonesia yang benar-benar dipilih langsung oleh rakyat secara demokrasi dan transparan. Bersama Jusuf Kalla, Indonesia benar-benar memasuki masa penuh demokrasi pada periode kepemimpinan 2004-2009. Namun, apakah dua sosok yang ini benar-benar sosok yang diidam-idamkan rakyat Indonesia?

Sebagai seorang wartawan istana, Wisnu Nugroho mendapatkan kesempatan untuk dapat bertemu dengan dua orang penting tersebut hampir setiap harinya. Melalui pekerjaannya inilah, Wisnu memiliki banyak sekali kesempatan untuk dapat lebih jauh mengenal dua sosok unik yang dianggap memiliki karakter berseberangan tersebut. Dalam periode kurang dari 1 tahun, Wisnu telah menerbitkan 3 buku; Pak Beye dan Istananya, Pak Beye dan Keluarganya; serta Pak Kalla dan Presidennya. Ketika buku tersebut mengulas tuntas mengenai kehidupan pribadi dua orang terpenting periode 2004-2009 itu, mengenai kehidupan mereka di dalam istana, kehidupan pribadi mereka dalam keluarga, bahkan hubungan pribadi antara keduanya.

Namun, apakah buku tersebut tidak mengundang kontroversi? Terlebih lagi, buku yang terbit pada tahun 2010 itu dapat dibaca oleh seluruh rakyat Indonesia, dan menceritakan secara jenaka segala macam kehidupan pribadi Pak Esbeye yang kemudian terpilih lagi menjadi Presiden pada periode 2009-2014. Nyatanya hal itu sedikitpun tidak dikhawatirkan oleh Wisnu. Baginya, hal ini justru menjadi semacam “ujian” bagi Pak Esbeye yang dianggap sebagai pelopor pemimpin berdemokrasi di Indonesia. Dengan adanya demokrasi, kebebasan berpendapat selalu dijunjung tinggi, bahkan ketika pendapat itu menyinggung pemimpin yang paling disegani sekalipun.

Usia bukan Alasan

“gue lagi ga enak badan nih bro, stop dulu deh olahraganya...”

Ungkapan tersebut sangat akrab dalam benak setiap anak muda yang gemar berolahraga maupun yang tidak gemar berolahraga. Bagi sebagian besar anak muda, berolahragalah ketika tubuh sedang fit, dan berhenti berolahraga ketika tubuh tidak fit. Mungkin ungkapan tersebut sudah dianggap sebagai salah satu ‘hukum’ ketika hendak berolahraga karena hampir setiap orang melakukannya tanya disuruh.

Namun nampaknya pendapat berbeda dimiliki oleh Aziz Luthfi, dosen Universitas Multimedia Nusantara (UMN) yang gemar berolahraga gowes meskipun usianya sudah 58 tahun. Bagi dosen yang mengajar mata kuliah statistik ini, olahraga justru wajib dilakukan ketika tubuh sedang tidak fit. Ditemui oleh tim featuremezzo di kediamannya di sektor Catalina, Serpong, pria yang memiliki 2 anak ini menuturkan bahwa salah satu penyebab mengapa olahraga terasa sia-sia adalah karena salah kaprah yang selalu dipegang teguh oleh banyak anak muda tersebut.

“olahraga gunanya buat bikin badan fit, jadi kalo lagi ga fit, justru harus olahraga, supaya badan fit dan kuat lagi, bukannya malah istirahat tidur-tiduran,” tutur Aziz.

Lalu manakah yang benar? Bagi pria berambut putih ini, semuanya relatif, tergantung niat dan kemauan orang yang menjalankan olahraga itu sendiri. Aziz sendiri sudah mampu membuktikan kata-katanya. Sekalipun sudah cukup berumur, dia masih mampu gowes setiap hari, bahkan pernah menempuh perjalanan jarak jauh dari Tangerang hingga Cirebon hanya menggunakan sepeda.


Bahkan pada Desember ini, Aziz melakukan sesuatu yang lebih gila lagi untuk kegiatan amal. Dia akan melakukan gowes melintasi Tangerang, Depok, Cirebon, hingga Tasikmalaya untuk dapat mengumpulkan dana bagi yayasan yang dia kelola. Nah bagaimana dengan kalian guys? 

Kritik dan Saran