Translator!

Kamis, 20 November 2014

Cepat Bukan Berarti Akurat




Apa yang ada dalam benakmu ketika suatu peristiwa yang baru saja terjadi di dekat rumahmu, hanya dalam waktu beberapa menit sudah langsung diketahui oleh orang-orang di seluruh dunia? Itulah yang menandai dimulainya era digital, era dimana informasi apapun dapat timbul dan tenggelam dengan mudah, dapat dikonsumsi siapa saja kapan saja. Era kebanjiran informasi.

Apakah hal itu adalah hasil skenario media-media dimana para jurnalis berada dibaliknya? Mari kita kembali ke beberapa tahun belakang, ketika para awak media tersebut masih memainkan peran mainstream hanya menggunakan pulpen dan buku catatan. Kala itu media siar masih menayangkan berita pada waktu yang sudah ditentukan, dengan konten berita yang telah ditentukan pula. Media cetak bahkan hanya membagikan kontennya maksimal sekali dalam sehari. Namun, media-media yang lambat tersebut mampu membangun opini publik, dimana publik dapat digerakkan melalui berbagai pemberitaan mereka yang “lambat”.

Sekalipun “lambat”, publik menggunakan mereka sebagai pegangan dalam berbagai aspek. Keakuratan berita menjadi kuncinya. Jurnalis mainstream bersenjatakan pulpen dan buku catatan tersebut berhasil memainkan peran vitalnya dalam mempengaruhi kehidupan masyarakat. Lalu bagaimana dengan jurnalisme masa kini? 

Ignatius Haryanto
Hal itulah yang coba dibahas Ignatius Haryanto dalam buku Jurnalisme Era Digital. Ignatius mencoba memaparkan bahwa konvergensi media dan konglomerasi media memberikan perubahan yang sangat signifikan dalam kehidupan media saat ini. Keakuratan tidak lagi menjadi yang utama, melainkan kecepatan dalam membagikan konten kepada media dan merancang konten tersebut semenarik mungkin.

Jurnalis bersenjatakan pulpen dan buku catatan tersebut semakin kehilangan perannya ketika era digital memunculkan citizen journalism, dimana setiap pengguna internet mampu menjadikan dirinya sebagai jurnalis hanya dengan memposting berbagai informasi yang ia ketahui melalui media sosial. 

Mungkin hal inilah yang diam-diam kita inginkan. Era digital dan new media telah mengubah alur jurnalisme dan alur informasi. Kecepatan lebih penting dari segala-galanya, termasuk keakuratan dari ini berita itu sendiri.

Lalu bagaimana cara mengembalikan alur jurnalisme tersebut kembali kepada treknya? Ingat, siapapun yang telah mahir menggunakan internet dan sosial media, sudah dapat disebut citizen journalism, termasuk kita. Internet dan new media yang notabene sangat memajukan kehidupan manusia dalam berbagai aspek, harus tetap memainkan perannya dalam hal kecepatan. Keakuratan dan kebenaran menjadi bagian kita, dimana kita dapat mengontrol segala hal yang kita “kicaukan” di media sosial agar tetap menjadi informasi yang baik bagi siapapun yang mengkonsumsi “kicauan” kita.

Pilih cepat atau akurat ?


Gambar:

http://img.bukabuku.net/product_original/2/d/2dd3b83abe9eb446ff811e1e30ee7938.jpg

http://warisanindonesia.com/wimedia/2012/01/ignatius-haryanto-th.jpg

Kritik dan Saran