Sekitar 20-30
tahun yang lalu, globalisasi adalah wacana yang seolah hanya akan menjadi
impian kosong bagi sebagian besar umat manusia. Berhubungan secara langsung
dengan orang yang berada di belahan dunia lain adalah hal yang dianggap
mustahil. Setiap suku bangsa masih terkotak-kotak dengan batasan nasionalisme
mereka masing-masing.
Setelah kemunculan alat komunikasi seperti telepon genggam dan komputer, wacana kosong tersebut perlahan mulai menampakkan wajahnya. Globalisasi menjadi kenyataan, setiap manusia dapat terhubung satu sama lain, sekalipun berada di belahan dunia yang berbeda. Tak ada lagi batasan atau pengkotak-kotakan dalam kehidupan manusia.
Setelah kemunculan alat komunikasi seperti telepon genggam dan komputer, wacana kosong tersebut perlahan mulai menampakkan wajahnya. Globalisasi menjadi kenyataan, setiap manusia dapat terhubung satu sama lain, sekalipun berada di belahan dunia yang berbeda. Tak ada lagi batasan atau pengkotak-kotakan dalam kehidupan manusia.
Lalu bagaimana dengan
nasionalisme? Masih adakah tempat bagi nasionalisme dalam kehidupan manusia era
globalisasi?
Masa depan
berada di tangan para pelaku globalisasi, termasuk masa depan bangsa Indonesia
yang tak luput dari perkembangan teknologi dan new media. Mereka pula yang menentukan bagaimana kehidupan bangsa
harus berjalan saat ini. Dengan semakin menguatnya globalisasi, pengaruh
kehidupan asing pun semakin gencar masuk kedalam kehidupan bangsa Indonesia.
Budaya asing, bahasa asing, hingga kehidupan asing menjadi “menu” sehari-hari
masyarakat Indonesia. Mereka sudah tidak
lagi menjadi “masyarakat Indonesia”, namun telah menjadi “masyarakat dunia”.
Bung Karno pernah berkata bahwa ”perjuangan generasi mendatang akan lebih sulit karena melawan bangsa sendiri yang jadi penghianat bagi rakyatnya”
Jadi sudah hilangkah nasionalisme
dalam kehidupan masyarakat Indonesia? Atau, apa yang bisa dilakukan dengan
globalisasi agar tetap menumbuhkan nasionalisme terhadap tanah air?
“kita justru bisa pake sosial media sebagai sarana
nasionalisme kita,” kata Alfi, mahasiswa Universitas Multimedia Nusantara,
ketika ditanya mengenai nasionalisme di era globalisasi.
Ya, mengapa kita harus
dikendalikan oleh globalisasi? Mengapa bukan kita yang mengendalikan
globalisasi untuk memperkenalkan Indonesia kepada dunia? Selama ini terlalu
banyak budaya asing yang masuk dalam kehidupan masyarakat Indonesia. Sekarang,
giliran kita yang menduniakan budaya kita kepada dunia. Masih ada harapan untuk
nasionalisme!
Daniel Mananta, selebritis top Indonesia, menjadi bukti mengapa
nasionalisme masih ada di tengah globalisasi. Melalui tagline Damn I Love Indonesia, dia
memperkenalkan bahkan mempopulerkan Indonesia, dan “menjual” Indonesia kepada
dunia lewat produk-produk pakaiannya. Kini, siapa yang ragu globalisasi akan
merusak nasionalisme kita? Ya, nasionalisme masih ada!



Tidak ada komentar:
Posting Komentar