Translator!

Selasa, 25 November 2014

Nasionalisme di Era Globalisasi


Sekitar 20-30 tahun yang lalu, globalisasi adalah wacana yang seolah hanya akan menjadi impian kosong bagi sebagian besar umat manusia. Berhubungan secara langsung dengan orang yang berada di belahan dunia lain adalah hal yang dianggap mustahil. Setiap suku bangsa masih terkotak-kotak dengan batasan nasionalisme mereka masing-masing.

Setelah kemunculan alat komunikasi seperti telepon genggam dan komputer, wacana kosong tersebut perlahan mulai menampakkan wajahnya. Globalisasi menjadi kenyataan, setiap manusia dapat terhubung satu sama lain, sekalipun berada di belahan dunia yang berbeda. Tak ada lagi batasan atau pengkotak-kotakan dalam kehidupan manusia.
Lalu bagaimana dengan nasionalisme? Masih adakah tempat bagi nasionalisme dalam kehidupan manusia era globalisasi?

Masa depan berada di tangan para pelaku globalisasi, termasuk masa depan bangsa Indonesia yang tak luput dari perkembangan teknologi dan new media. Mereka pula yang menentukan bagaimana kehidupan bangsa harus berjalan saat ini. Dengan semakin menguatnya globalisasi, pengaruh kehidupan asing pun semakin gencar masuk kedalam kehidupan bangsa Indonesia. Budaya asing, bahasa asing, hingga kehidupan asing menjadi “menu” sehari-hari masyarakat Indonesia.  Mereka sudah tidak lagi menjadi “masyarakat Indonesia”, namun telah menjadi “masyarakat dunia”.

Bung Karno pernah berkata bahwa ”perjuangan generasi mendatang akan lebih sulit karena melawan bangsa sendiri yang jadi penghianat bagi rakyatnya”


Jadi sudah hilangkah nasionalisme dalam kehidupan masyarakat Indonesia? Atau, apa yang bisa dilakukan dengan globalisasi agar tetap menumbuhkan nasionalisme terhadap tanah air?

“kita justru bisa pake sosial media sebagai sarana nasionalisme kita,” kata Alfi, mahasiswa Universitas Multimedia Nusantara, ketika ditanya mengenai nasionalisme di era globalisasi.

Ya, mengapa kita harus dikendalikan oleh globalisasi? Mengapa bukan kita yang mengendalikan globalisasi untuk memperkenalkan Indonesia kepada dunia? Selama ini terlalu banyak budaya asing yang masuk dalam kehidupan masyarakat Indonesia. Sekarang, giliran kita yang menduniakan budaya kita kepada dunia. Masih ada harapan untuk nasionalisme!

Daniel Mananta, selebritis top Indonesia, menjadi bukti mengapa nasionalisme masih ada di tengah globalisasi. Melalui tagline Damn I Love Indonesia, dia memperkenalkan bahkan mempopulerkan Indonesia, dan “menjual” Indonesia kepada dunia lewat produk-produk pakaiannya. Kini, siapa yang ragu globalisasi akan merusak nasionalisme kita? Ya, nasionalisme masih ada!







Penulis : Andreas Ivan

Editor : Ardyan Endardo




Tidak ada komentar:

Kritik dan Saran