Apa yang ada dalam benakmu ketika suatu peristiwa yang baru
saja terjadi di dekat rumahmu, hanya dalam waktu beberapa menit sudah langsung
diketahui oleh orang-orang di seluruh dunia? Itulah yang menandai dimulainya
era digital, era dimana informasi apapun dapat timbul dan tenggelam dengan
mudah, dapat dikonsumsi siapa saja kapan saja. Era kebanjiran informasi.
Apakah hal itu adalah hasil skenario media-media dimana para
jurnalis berada dibaliknya? Mari kita kembali ke beberapa tahun belakang,
ketika para awak media tersebut masih memainkan peran mainstream hanya menggunakan pulpen dan buku catatan. Kala itu
media siar masih menayangkan berita pada waktu yang sudah ditentukan, dengan
konten berita yang telah ditentukan pula. Media cetak bahkan hanya membagikan
kontennya maksimal sekali dalam sehari. Namun, media-media yang lambat tersebut
mampu membangun opini publik, dimana publik dapat digerakkan melalui berbagai
pemberitaan mereka yang “lambat”.
Sekalipun “lambat”, publik menggunakan mereka sebagai
pegangan dalam berbagai aspek. Keakuratan berita menjadi kuncinya. Jurnalis
mainstream bersenjatakan pulpen dan buku catatan tersebut berhasil memainkan
peran vitalnya dalam mempengaruhi kehidupan masyarakat. Lalu bagaimana dengan jurnalisme masa kini?
![]() |
| Ignatius Haryanto |
Jurnalis bersenjatakan pulpen dan buku catatan tersebut
semakin kehilangan perannya ketika era digital memunculkan citizen journalism, dimana setiap pengguna internet mampu
menjadikan dirinya sebagai jurnalis hanya dengan memposting berbagai informasi
yang ia ketahui melalui media sosial.
Mungkin hal inilah yang diam-diam kita
inginkan. Era digital dan new media telah mengubah alur jurnalisme dan alur
informasi. Kecepatan lebih penting dari segala-galanya, termasuk keakuratan
dari ini berita itu sendiri.
Pilih cepat atau akurat ?

1 komentar:
Nice Post
Posting Komentar