![]() |
| Wisnu Nugroho |
Di dunia
ini tidak ada yang sempurna, termasuk pemimpin yang paling disegani sekalipun.
Menilik dalam kehidupan berbangsa dan bernegara Indonesia, kita akan ingat pada
seorang sosok bernama Susilo Bambang Yudhoyono yang akrab disapa pak Esbeye
(SBY). Pak Esbeye adalah sosok pemimpin pertama Indonesia yang benar-benar
dipilih langsung oleh rakyat secara demokrasi dan transparan. Bersama Jusuf
Kalla, Indonesia benar-benar memasuki masa penuh demokrasi pada periode
kepemimpinan 2004-2009. Namun, apakah dua sosok yang ini benar-benar sosok yang
diidam-idamkan rakyat Indonesia?
Sebagai
seorang wartawan istana, Wisnu Nugroho mendapatkan kesempatan untuk dapat
bertemu dengan dua orang penting tersebut hampir setiap harinya. Melalui
pekerjaannya inilah, Wisnu memiliki banyak sekali kesempatan untuk dapat lebih
jauh mengenal dua sosok unik yang dianggap memiliki karakter berseberangan
tersebut. Dalam periode kurang dari 1 tahun, Wisnu telah menerbitkan 3 buku;
Pak Beye dan Istananya, Pak Beye dan Keluarganya; serta Pak Kalla dan
Presidennya. Ketika buku tersebut mengulas tuntas mengenai kehidupan pribadi
dua orang terpenting periode 2004-2009 itu, mengenai kehidupan mereka di dalam
istana, kehidupan pribadi mereka dalam keluarga, bahkan hubungan pribadi antara
keduanya.
Namun,
apakah buku tersebut tidak mengundang kontroversi? Terlebih lagi, buku yang
terbit pada tahun 2010 itu dapat dibaca oleh seluruh rakyat Indonesia, dan
menceritakan secara jenaka segala macam kehidupan pribadi Pak Esbeye yang
kemudian terpilih lagi menjadi Presiden pada periode 2009-2014. Nyatanya hal
itu sedikitpun tidak dikhawatirkan oleh Wisnu. Baginya, hal ini justru menjadi
semacam “ujian” bagi Pak Esbeye yang dianggap sebagai pelopor pemimpin
berdemokrasi di Indonesia. Dengan adanya demokrasi, kebebasan berpendapat
selalu dijunjung tinggi, bahkan ketika pendapat itu menyinggung pemimpin yang
paling disegani sekalipun.


Tidak ada komentar:
Posting Komentar